5 Burung ini Sulit Ditemukan di Alam Liar, No 5 Hampir Punah

Sebagai negara kepulauan, dan memiliki iklim tropis, Indonesia menjadi habitat berbagai jenis burung. Tak jarang burung-burung yang ada di Indonesia adalah burung endemik, yang tidak ada di negara lain.

Namun, populasi burung di alam liar terus berkurang akibat makin menyempitnya hutan dan juga perburuan baik untuk diperjual belikan maupun dikonsumsi.

Di beberapa daerah khusunya di pulau jawa, sudah banyak burung yang sudah sangat sulit ditemukan di alam liar. Warna dan kicauan burung yang indang, menjadikan Burung-burung diburu untuk diperjual belikan, dan berdampak semakin berkurangnya populasi di alam liar.

Berikut ini adalah enam burung cantik yang sudah sulit ditemukan di alam liar, khusunya di pulau Jawa:

1. Gelatik Jawa

Gelatik Jawa (KotenPedia/Wikipedia)

Gelatik jawa atau Padda Oryzivora adalah sejenis burung berukuran kecil, dengan panjang lebih kurang 15 cm, dari suku Estrildidae.

Burung gelatik Jawa memiliki kepala hitam, pipi putih dan paruh merah yang berukuran besar. Burung dewasa mempunyai bulu berwarna abu-abu, perut berwarna coklat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya. Burung jantan dan betina serupa. Burung muda berwarna coklat.

Pakan utama burung ini adalah bulir padi atau beras, juga biji-bijian lain, buah, dan serangga kecil.

Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta terbatasnya ruang hidup burung ini menyebabkan populasi gelatik Jawa menyusut pesat dan terancam punah di habitat aslinya dalam waktu singkat. Sekarang telah sulit untuk menemukan gelatik di persawahan atau ladang.

2. Luntur Jawa

Luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii), adalah spesies burung yang termasuk famili Trogonidae. Luntur Jawa adalah burung endemik untuk bagian barat pulau Jawa, Indonesia.

Habitat alaminya adalah hutan lembap montane tropis atau subtropis. Kelestarian spesies ini terancam oleh kemusnahan habitanya.

3. Cekakak Jawa

Cekakak Jawa (KotenPedia/Wikipedia)

Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris) adalah spesies burung anggota marga Halcyon dari suku Halcyonidae (kerabat raja-udang).

Burung ini merupakan jenis burung pemakan serangga, ikan, sampai katak kecil yang memiliki habitat di lahan terbuka, terutama dekat air bersih, tersebar sampai ketinggian 1.000 m dpl.

Burung dewasa dengan kepala berwarna cokelat tua. Tenggorokan dan kerah cokelat. Perut dan punggung biru ungu. Penutup sayap hitam dan bulu terbang biru terang. Bercak putih besar pada sayap terlihat jelas saat terbang. Burung remaja dengan tenggorokan keputih-putih.

4. Paok Pancawarna

Paok Pancawarna (Pitta guajana) adalah spesies burung dari keluarga Pittidae, dari genus Pitta. Burung ini merupakan jenis burung pemakan semut, kecoa, kumbang, siput, cacing, rayap.

Memiliki habitat di hutan primer, hutan sekunder tertutup, tersebar sampai ketinggian 1.500 m dpl.

Burung jantan memiliki ciri kepala hitam dengan alis kuning mencolok dan khas. Punggung dan sayap coklat dengan garis sayap putih. Ekor biru. Dagu putih. Ras Jawa: dada dan sisi lambung bergaris-garis hitam dan kuning.

Sementara, burung betina memiliki warna lebih suram dan lebih merah. Iris coklat, paruh dan kaki hitam. Bersifat pemalu, kadang terlihat melintas jalan di hutan, namun lebih sering terdengar suaranya.

5. Ekek Keling Jawa

Ekek geling jawa merupakan burung endemik pada dataran rendah. Burung ini ditemukan pada daerah Jawa Barat. Status konservasi dari burung ini adalah Critical Endangered . Hal tersebut dapat disebabkan dengan adanya penebangan hutan secara liar, namun dalam satu decade trakhir penangkapan burung untuk dijual pada pasar menjadi ancaman utama untuk populasi burung ini.

Populasi pada alam liar secara global tidak akan melebihi 100 ekor, dan sangat mungkin juga jumlahnya dibawah 50 individu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *